Senin, 30 Desember 2013

Cinta jadi Sahabat, Musuh pun jadi Sahabat

Cinta jadi Sahabat, Musuh pun jadi Sahabat

“Hiks... hiks... hiks...” aku menangis tersedu-sedu di balik pintu kamar mandi sekolah. Aku merasa sedih, baru beberapa hari aku memasuki sekolah, aku sudah dimusuhi oleh sekolompok teman-teman baruku. Mereka adalah sekelompok perempuan atau biasa disebut genk yang menganggap diri mereka paling populer di sekolah. Aku pun tidak mengerti, mengapa mereka memusuhiku. Apa yang telah ku perbuat sehingga mereka harus memusuhi dan tidak mau berteman denganku. Hanya merekalah yang memusuhiku di sekolah ini, teman-teman yang lain tetap bersikap biasa terhadapku.

Setiap kali aku berpapasan dengan mereka, wajah kesal dan tatapan tajam tertuju kepadaku.
“Hei kamu anak baru !” sapa Maya ketua genk itu.

“Aku?” kataku menunjuk ke arah dadaku.

“Iya kamu. Aku kasih tau ya, kamu itu jadi anak baru jangan merasa paling pintar, paling hebat, apalagi merasa cantik. Karena disini cuma aku dan anggota  genkku yang paling populer, hebat, dan pastinya cantik-cantik. Iya gak teman-teman?”.

”Iya dong...” jawab mereka dengan bersamaan. Aku hanya terdiam, aku tak mau berkata apapun. Lebih baik aku diam, daripada aku berbicara justru akan menambah masalah.

*****

“Hai, Lita!” tegur Fika, teman sebangkuku.

“Hai juga, Fik!” sahutku dengan senyuman.

“Lit, ada yang mau aku ceritakan padamu. Ini bersangkut paut denganmu” ucap Fika yang membuat aku terhenti menulis.

“Apa? Bersangkut-paut denganku? Memangnya ada apa, Fik?” tanyaku dengan heran.

“Begini, apa kamu tau alasan Maya dan teman-temannya itu memusuhimu?” tanya Fika kembali.

“Tidak” jawabku singkat.

“Aku tau informasi ini ketika aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka sewaktu di kantin tadi. Ternyata, hal yang membuat mereka memusuhimu itu karena mereka iri dengan kepintaranmu, kehebatanmu, dan sebagainya  deh” jelas Fika padaku. Aku memangnya pintar dan hebat bagaimana?. Kalau aku sudah pintar dan hebat untuk apa aku sekolah.

“Lita?” tegur Fika sambil menepuk pundakku.

“Iya, apa Fik?” jawabku terkejut.

“Dan ada satu hal lagi yang membuat mereka memusuhimu?”.

“Apa lagi?” tanyaku heran.

“Jadi begini, Maya itu cemburu sama kamu, karena seseorang yang selama ini disukai olehnya justru malah tertarik padamu”.

“Hah? Siapa memangnya yang menyukaiku?” ucapku dalam lamunanku.

“Lita, kamu melamun?” tanyanya.

“Apa? Iya, eh enggak..” ucapku tak karuan.

“Oh, jadi itu yang membuat mereka memusuhiku, kalau begitu aku akan lebih mengintropeksi diriku dan mencari jalan permasalahannya supaya mereka tidak salah paham seperti ini padaku” jelasku.

“Baiklah kalau itu maumu, aku akan membantumu jika kamu membutuhkannya. Aku permisi dulu ya,Lit”. 

“Iya, Fika. Terimakasih ya atas informasinya” seruku.

“Iya sama-sama” ucapnya sambil melangkah pergi.

Belakangan ini aku memang sedang menyukai salah seorang temanku di sekolah ini. Tetapi yang membuat aku bertanya-tanya adalah, apakah orang yang aku sukai adalah orang yang dikatakan oleh Fika tadi?. ”Sudahlah, untuk apa aku membahas soal perasaanku ini. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya agar aku bisa bicara baik-baik kepada mereka dan membuat keadaan menjadi lebih baik”.

*****
Nada dering handphone ku berbunyi, tanda ada pesan singkat masuk. Ku lihat hanya ada nomor yang tertera, tak ada nama pengirim yang biasanya telah ku simpan di kontak handphone ku. Segera ku buka dan ku baca, pesan itu bertuliskan

“Assalamu’alaikum. Hai, Lita. Apakah aku mengganggumu? Aku hanya ingin lebih mengenalmu. Ku harap, kamu mau berteman denganku”

Siapa yang mengirim pesan ini, aku bingung, aku tidak tahu, karena aku tidak mempunyai nomor ini sebelumnya. Karena penasaran, aku segera membalas pesan itu

“Wa’alaikumsalam. Tidak, kamu tidak menggangguku karena kebetulan saat ini adalah waktu luangku. Tentu saja aku mau berteman denganmu, jika kamu memiliki niat baik untuk apa aku harus menolaknya. Tapi maaf, kamu itu sebenarnya siapa? Apakah aku mengenalmu?”.

Tak lama kemudian aku menerima kembali balasan pesan darinya
“Oh, baguslah kalau begitu. Aku tak salah duga ya, ternyata kamu itu memang anak yang baik. Sebenarnya, kamu mengenalku kok. Tapi maaf, aku tak ingin memberitahu padamu siapa aku sebenarnya. Kamu jangan takut, aku temanmu dan aku juga anak baik-baik kok. Semoga kamu percaya denganku ”.

Dia bilang aku mengenalnya, hal itu justru membuatku semakin penasaran. Tapi sekarang sudah waktunya aku belajar, jadi aku harus mengakhiri komunikasi dengannya untuk saat ini. Namun, aku sempatkan untuk membalas pesannya terlebih dahulu.

“Kalau memang kamu berniat  baik padaku dan aku mengenalmu, tak apalah aku bersedia berteman denganmu dan jika memang kamu tidak ingin memberitahu siapa kamu sebenarnya, itu adalah hak kamu jadi aku tidak bisa memaksanya. Tapi maaf ya, komunikasi kita kali ini harus diakhiri karena sudah waktunya untuk belajar. Kita sambung di lain waktu lagi. Assalamu’alaikum”kata-kataku terakhir pada malam itu dan segera ku matikan handphoneku.
*****
            Hari pun berganti, ku lihat cuaca hari ini begitu cerah. Semoga suasana hari ini secerah cuacanya dan semoga akan ada keajaiban yang membuat Maya dan teman-temannya tidak lagi memusuhiku. Namun ternyata, kekesalan Maya masih tetap ada untukku. Aku harus sabar dan tetap berusaha untuk membuat semua menjadi lebih baik. Hal yang membuatku masih bertanya-tanya sampai saat ini, siapakah yang disukai oleh Maya yang katanya justru ia menyukaiku. Aku sempat mendengar dari salah seorang temanku lainnya, ia bilang Maya akan memusuhi siapa saja yang mendekati orang yang disukainya. Aku pun tertegun dengan pernyataan itu, jika dekat dengan orang itu saja akan dimusuhi apalagi yang katanya.... “Ah, sudahlah. Ayo Lita buang jauh-jauh pemikiran negatif kamu terhadap Maya. Kamu akan dosa jika berprasangka buruk dengannya” ucapku dalam hati.

            Ketika istirahat, aku selalu mengunjungi perpustakaan sambil membaca dan meminjam berbagai macam buku. Namun, ku sempatkan juga untuk shalat Dhuha dan membeli sedikit jajanan yang ada di kantin, untuk melepas rasa laparku. Setelah beberapa lama aku mencari buku-buku yang akan ku pinjam, kini telah ku dapatkan semua. Ternyata tanpa ku sadar buku-buku yang ku pinjam jumlahnya tidak sedikit dan bukunya juga lumayan tebal. Ingin rasanya aku mengurangi jumlah buku yang ku pinjam, namun semua buku-buku itu sedang aku butuhkan saat ini dan selama jumlah buku yang ku pinjam tidak melebihi batas jadi untuk apa aku kembalikan. Ku teruskan langkahku menuju meja penjaga perpustakaan untuk meminta izin dan dicatatnya buku-buku yang akan ku pinjam oleh penjaga perpustakaan.

            Usai dicatat, aku segera berjalan menuju pintu untuk keluar dari perpustakaan. Namun nampaknya tubuhku tidak seimbang ketika berjalan, mungkin karena beban yang ku bawa cukup berat dan banyak. Perlahan ku buka pintu dengan keadaan tubuhku yang tidak seimbang dan ternyata “Gubrakkk..!!”. Aku menabrak seseorang dari arah luar yang ingin masuk ke dalam perpustakaan, aku terjatuh dan semua buku-buku pun ikut berjatuhan di lantai.

“Maaf ya maaf, aku tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa?” ucap orang itu sambil membantu membereskan buku-bukuku yang berjatuhan.

Mendengar suaranya, rasanya tidak asing lagi bagiku, dan ternyata dugaan ku benar dia adalah Andre.
“Aku tidak apa-apa. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu karena ini kecerobohanku dan seharusnya aku juga tidak perlu membawa buku sebanyak ini. Sekali lagi maaf ya” ucapku padanya.

 “Enggak kok ini aku yang salah. Kelihatannya kamu keberatan membawa buku sebanyak itu. Boleh aku bantu?” ucapnya. Aku tercengang, entah mengapa perasaanku menjadi berubah ketika bertemu dengannya.

“Hei kok malah melamun? Sudah sini, aku bantu” katanya sambil mengambil beberapa buku yang ku bawa.

“Kamu Lita ya?” tanyanya.

“I..i..iya”jawabku gugup.

“Kok kamu gugup begitu sih?” tanyanya kembali .

“Tidak, aku tidak gugup. Mungkin aku hanya kelelahan, iya hanya kelelahan” kataku meyakinkan.

“Kamu kelelahan, Lit? Yasudah, kalau begitu bukunya aku saja yang membawa semua. Aku kan kuat” seru seseorang yang tiba-tiba menghampiri kami berdua.

“Firman?” ucapku heran.

“Iya ini aku, kamu seperti melihat siapa saja, Lit. Sini, bukunya aku saja yang membawa, kamu kan sedang lelah. Oh iya ini ada minuman untuk kamu” ucap Firman seraya mengambil buku-buku yang ku bawa dan memberikan ku sebotol minuman.

“Terimakasih ya, Firman. Memang kebetulan aku sedang haus” jawabku dengan senyuman.

“Ehm. Oh iya, buku-buku ini mau kita bawa kemana?” tanya Andre memotong pembicaraanku dengan Firman.

“Ikuti saja kita berdua. Aku dan Lita kan sekelas” sahut Firman. Aku pun hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka berdua yang cukup aneh dan lucu.

*****

“Terima kasih ya Andre, Firman. Kalian berdua sudah membantuku membawa buku-buku ini. Sebagai ucapan terima kasih, aku akan mentraktir kalian berdua. Kalian mau makan apa saja, akan aku belikan ”.

“Serius, Lit?” sahut mereka bersamaan.

“Wah, kalian berdua ternyata kompak juga ya. Iya tentu aku serius, dua rius malah” ucapku meyakinkan mereka.

“Yasudah kalau begitu, sekarang kita ke kantin saja, sebelum bel tanda waktu istirahat selesai berbunyi, nih” sahut Firman yang nampaknya sudah kelaparan.

            Usai makan dan berbincang-bincang, kami memasuki kelas masing-masing, karena waktu istirahat telah usai. Senang rasanya karena aku dapat akrab dengan mereka. Namun disisi lain, ternyata Maya bersama teman-temannya memperhatikanku sejak tadi aku bersama dengan Firman dan Andre. Ketika aku ingin memasuki kelas, Maya dan teman-temannya menghadangku masuk.

“Lita, kamu jangan kecentilan sama Firman dan Andre dong. Karena mereka berdua itu adalah orang-orang yang disukai sama Maya” ucap Katrina salah satu teman Maya.

“Maaf, aku tidak seperti yang kalian katakan, aku hanya berteman dengan mereka sama seperti yang lainnya. Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan mereka dan mereka juga mau membantuku. Aku tidak mungkin menolak niat baik mereka itu, apalagi mereka memaksa, itu membuat aku semakin tidak bisa menolak mereka” jelasku dengan nada lirih.

“Lita, aku tidak mau tahu apa alasanmu. Yang aku ingin adalah agar kamu bisa menjauh dari Firman ataupun Andre. Apa kamu mengerti dengan apa yang aku ucapkan?” ucap Maya yang semakin membuatku takut.

“Maya, Lita? Ada apa ini, kok bicaranya di depan pintu seperti ini?” tanya Firman yang tiba-tiba datang memecahkan suasana  panas diantara kami.

“Oh, tidak apa-apa kok Firman. Aku hanya sedang membicarakan tentang pertemanan kita. Ya, aku kan berteman dengan siapa saja. Iya kan Lita?” seru Maya sambil menginjak kakiku.

“Aw !! I..i..iya Firman. Apa yang dikatakan Maya itu benar” ucapku gugup dan kesakitan.

“Kalau begitu, ayo masuk ke dalam kelas. Waktu istirahat kan sudah habis” ajak Firman. Kami semua pun masuk ke dalam kelas dan kembali mengikuti pelajaran seperti biasanya.

            Terdapat satu hal yang menjadi pertanyaanku. Tadi Maya berkata jika aku harus menjauhi Firman dan Andre, karena mereka berdua adalah orang di sukai olehnya. Aku pun teringat dengan perkataan Fika, jika salah satu penyebab Maya memusuhiku karena orang yang sedang disukai oleh Maya justru menyukaiku. Jadi, siapa diantara mereka berdua yang menyukaiku?. Padahal sesungguhnya aku menyukai Andre seseorang yang berbeda keyakinan denganku. Tetapi entah mengapa aku malah menyukainya. Sudahlah tak usah dipikirkan.
*****
            Hari Sabtu, malam Minggu. Biasannya Papa dan Mama memberikanku waktu luang di hari ini lebih dari hari-hari biasa. Ku isi waktu luangku dengan belajar mengaji terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan membaca buku. Seperti biasa, jika sudah menjelang malam sang misterius itu kembali mengirimkanku pesan.

“Assalamu’alaikum, Lita. Bolehkah kita sambung kembali pembicaraan yang kemarin?”.

 “Wa’alaikumsalam. Hai juga misterius. Maaf aku memanggilmu misterius, karena menurutku kamu memang misterius, tidak mau memberitahu siapa dirimu sesungguhnya. Tentu, waktu luang ku cukup tersedia untuk berbincang-bincang denganmu” balasku.

Tak lama pesan itu muncul kembali. 
“Hahaha, kamu lucu juga ya, Lit. Tak apa kok kamu memanggilku seperti itu, aku kan memang misterius” ucapnya.

Dan  seterusnya aku bercakap-cakap dengannya. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB, tiba-tiba Mama menghampiriku dan berkata 

“Lita, kamu kok belum tidur? Ini sudah malam lho. Biarpun esok adalah hari Minggu tetapi kamu tetap tidak boleh tidur sampai larut malam. Kesehatanmu bisa terganggu jika kamu tidur terlalu malam. Ini Mama bawakan susu untuk kamu, ayo di minum dulu!” ucap Mama dengan menjulurkan segelas susu untukku.

“Iya, Ma. Lita enggak akan tidur sampai larut malam kok. Terima kasih ya Ma, sudah mengingatkan aku dan membawakanku susu hangat ini. Aku sayang sekali sama Mama” jawabku dengan segera memeluk Mama.

“Mama juga sayang sekali denganmu. Oh iya, rencanannya besok Papa akan mengajak kita untuk pergi berrekreasi. Nah, sekarang kamu tidur dulu supaya besok kamu terlihat segar” ucap Mama dengan tersenyum dan melangkah keluar dari kamarku.

“Iya, Ma” jawabku singkat sambil menarik selimut dan bersegera untuk tidur.

Suasana di hari Minggu pagi adalah suasana yang paling membuatku bahagia. Karena aku dapat berkumpul dengan Papa dan Mamaku untuk sarapan bersama. Dalam waktu seminggu hanya sesekali aku dapat berkumpul dengan mereka. Wajar saja, karena kedua orang tuaku terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Meskipun mereka dipenuhi oleh kesibukkan masing-masing mereka tetap bisa menjalankan tugas mereka layaknya orang tua biasanya dan tetap bisa untuk memperhatikan serta memberikan kasih sayangnya untukku. Mereka juga tidak pernah lupa untuk menyiapkan waktu senggang untuk dapat berkumpul bersama seperti ini. Betapa bersyukurnya aku mempunyai Papa dan Mama seperti mereka.

            Namun, nampaknya rencana rekreasiku di hari ini akan gagal. Cuaca sedang tak bersahabat, hujan turun dengan cukup lebat. Akhirnya, untuk mengisi waktu di hari Minggu ini Papa dan Mama mengajakku untuk menonton film di rumah. Udara yang dingin ini terasa begitu hangat ketika aku berada diantara mereka.

“Pa, Ma. Aku bahagia sekali karena aku berada di antara Papa dan Mama. Udara dingin ini terasa hangat karena kasih sayang Papa dan Mama. Aku juga bangga mempunyai orangtua sehebat Papa dan Mama” ucapku sambil mencium pipi Papa dan Mama.

“Papa juga bangga sama kamu, kamu itu hebat, pintar dan mandiri” kata Papa tersenyum.

“Namanya juga anak Mama” sahut Mama memelukku.

“Eh.. anak Papa juga dong” sambung Papa kembali.

“Tentu dong. Pokoknya anak Papa dan Mama deh” jawabku. Kami pun berpelukan layaknya keluarga yang penuh kebahagiaan.

            Entah mengapa tiba-tiba aku teringat dengan Maya dan temannya yang sampai saat ini memusuhiku. Aku bahagia, namun di sisi lain aku merasa sedih karena masih ada orang-orang yang membenciku dengan alasan yang memang cukup tak ku mengerti. Bel rumah ku berbunyi, tanda ada tamu yang datang ke rumah ku.

“Siapa ya, yang datang disaat hujan lebat seperti ini?” tanyaku heran.

“Kamu bukakan saja pintunya. Mungkin itu temannmu” seru Mama. Segera ku berjalan menuju pintu rumah ku, perlahan ku buka dan ternyata.

“Hai, Lit !” sapanya dengan nada menggigil. “Gabriell? Kamu Gabriell temannya Maya kan?” ucapku terkejut. Aku tidak mengerti, mengapa Gabriell datang ke rumahku di saat hujan lebat seperti ini.

“Iya, aku Gabriell” ucapnya.

“Yasudah, lebih baik kamu masuk saja dulu. Tubuhmu pasti kedinginan karena basah kuyup seperti ini. Ayo, silahkan masuk !” ajakku.

            Bingung dan berbagai pertanyaan muncul di benakku. Rasanya ingin ku tuangkan pertanyaan-pertanyaan ini padanya. Namun, aku harus menunggu sampai ia selesai membersihkan tubuhnya.

“Siapa dia Lita? Apakah dia teman sekolahmu?” tanya Papa.

“Iya, Pa” jawabku singkat.

“Kamu bilang  mbok, bikinkan segelas cokelat hangat untuk temanmu itu. Kasihan dia, nampaknya ia sangat kedinginan karena kehujanan di luar sana” ujar Papa.

“Baik, Pa” jawabku.

            Tak lama, Gabriell pun keluar dari pintu kamar mandi.

“Ini cokelat hangat untukkmu”seru ku.

“Terima kasih Lita. Ternyata kamu itu memang baik ya, begitu juga dengan keluargamu. Meskipun keluargamu orang yang serba berkecukupan, namun tetap terlihat sederhana dan semuanya ramah juga lembut” sanjungnya.

“Iya sama-sama. Gabriell, kamu terlalu berlebihan deh. Mmm.. lebih baik sekarang kita ke kamar ku saja, mungkin akan terasa nyaman jika kita ingin berbicara” ajakku.

“Gabriell, aku mau tanya. Kok kamu datang ke rumahku di saat hujan lebat seperti ini? Mengapa tidak di lain waktu saja, yang mungkin cuacanya jauh lebih cerah. Kan kasihan kamunya juga sampai kehujanan begini, nanti kalau kamu sakit, bagaimana?” tanyaku heran.

“Sebenarnya aku berangkat ke rumahmu sejak tadi pagi, sewaktu cuaca masih lumayan cerah. Namun ketika di perjalanan, hujan tiba-tiba turun dan terpaksa aku meneduh di dekat pos satpam perumahan ini. Karena aku pikir terlalu lama disana, jadi lebih baik aku berlari saja hingga akhirnya aku sampai ke rumahmu dengan keadaan basah kuyup seperti tadi. Maaf ya Lit aku jadi merepotkan kamu” jelasnya.

“Oh jadi seperti itu. Tidak kok, kamu tidak merepotkanku. Justru aku senang karena ada teman yang rela kehujanan untuk dapat ke rumahku. Memangnya ada apa kamu datang ke rumah ku?” tanyaku kembali.

“Ada yang ingin aku sampaikan padamu” jawabnya.

“Menyampaikan apa?” tanyaku penasaran.

“Sebenarnya Maya dan teman-teman yang lain ingin berniat jahat padamu. Besok ketika di sekolah mereka akan menaruh lem perekat di kursi yang kamu duduki. Jadi aku harap kamu hati-hati ya dengan mereka” jelasnya.

Aku terkejut mendengar pernyataan Gabriell. “Tapi mengapa kamu menceritakannya padaku. Bukankah kamu adalah salah satu teman dekatnya Maya?” tanyaku kembali.

“Aku memang sudah lama berteman dengannya, sebelum kamu berada di sekolah itu aku sudah menjadi salah satu anggota genknya. Namun sejujurnya aku tidak suka dengan sikap dan tingkah lakunya selama ini. Ia selalu saja mengatur kami sesuka hatinya dan apa yang ia mau harus selalu terpenuhi. Belum lagi sikap dia yang tidak menghormati dan menghargai orang lain. Aku tahu, meskipun dia terlahir dari keluarga kaya, tapi tidak sepantasnya dia merendahkan orang lain. Bukankah kita semua sama di mata Tuhan. Lagi pula apa yang dimiliki oleh Maya adalah hasil jerih payah orang tuanya, bukan hasil dari keringatnya sendiri. Meskipun aku juga terlahir dari keluarga berada, sebenarnya aku tidak ingin memamerkan segala apapun yang aku punya seperti di saat bersama mereka. Saat aku bertemu denganmu dan aku perhatikan, ternyata sikap kamu sangat jauh lebih baik dari Maya. Aku butuh teman sepertimu, yang bisa mengajarkan aku untuk bersikap baik kepada semua orang dan selalu berpenampilan apa adanya. Apakah kau bersedia berteman denganku?” ucapnya.

“Tentu saja aku mau berteman denganmu. Tetapi aku harap meskipun kamu tidak suka dengan Maya, jangan pernah kamu menjelek-jelekan dia kepada orang lain. Karena biar bagaimanapun juga dia tetap teman kamu dan teman kita, bahkan dia sempat menjadi teman dekatmu” jelasku.

Setelah lama kami berbincang-bincang akhirnya kini aku dan Gabriell memutuskan untuk menjadi sahabat. Ia tidak takut kalau dia akan dimusuhi oleh Maya dan teman-temannya karena berteman denganku.

*****

            Hari pertama aku pergi ke sekolah dengan Gabriell. “Lit, biasanya aku ke sekolah naik mobil. Sekarang naik sepeda beda banget rasanya, jauh lebih asyik daripada naik mobil” ucap Gabriell.

“Iya, memang jauh lebih asyik naik sepeda. Ya hitung-hitung untuk mengurangi polusi udara” jelasku.

“Iya kamu benar juga, Lit. Ternyata kamu peduli lingkungan juga ya?” serunya.

“Ya kalau bukan di muali dari diri kita sendiri siapa lagi? Yasudah kita agak lebih cepat yuk mengayuhnya, supaya kita tidak terlambat” ajakku.

“Ayo!” teriaknya dengan semangat.

“Nampaknya kita tidak terlambat, justru kita yang lebih dahulu di sekolah, Lit. Lihat saja, belum terlalu ramai” seru Gabriell.

“Ya tidak apa-apa, lebih baik menunggu daripada terlambat. Yasudah kita parkir saja dulu sepedanya” ajakku.

“Assalamu’alaikum Lita. Pagi-pagi gini sudah datang saja” seru seseorang di balik badanku.

“Firman? Iya nih, aku memang biasa datang seperti ini. Kamu sendiri kok juga sudah datang?” tanyaku.

“Sekarang aku berangkat ke sekolah menggunakan sepeda. Jadi, lebih baik jika aku berangkatnya jauh lebih pagi dari biasanya. Besok-besok kita bareng saja berangkatnya, kan arahnya sama” ajaknya.

“Oh tentu boleh, kan kalau berangkatnya bersamaan jadi lebih seru” sahut Gabriell.

“Gabriell, kamu kok sama Lita. Pasti disuruh Maya kan supaya bisa jahatin Lita?” seru Firman dengan nada curiga.

“Firman, kamu jangan begitu dong. Gabriell sama sekali tidak memiliki niat jahat apapun terhadapku. Sekarang aku dan Gabriell adalah sahabat” jelasku.

“Iya tuh , benar apa yang dikatakan Lita. Makanya kamu jangan menuduh yang tidak-tidak sebelum ada buktinya” gerutu Gabriell.

“Yasudah, aku minta maaf deh. Aku kan tidak tahu kalau ternyata kamu sekarang sudah menjadi sahabatnya Lita” ucap Firman sambil menjulurkan tangannya untuk meminta maaf dengan Gabriell.

“Iya aku maafkan” jawab Gabriell singkat.

“Nah sudah baikkan kan? Kalau begitu sekarang kita masuk ke dalam, yuk !” ajakku.

            Maya dan temannya ternyata sudah lebih dulu berada di dalam kelas. Ketika aku ingin duduk, aku teringat dengan perkataan Gabriell kemarin. Segera ku tukar bangku itu dan ku lihat Maya dan teman-temannya heran melihat aku menukar bangku yang selama ini ku duduki dengan bangku yang lain.

“Hei, Lit !” sapa Gabriell.

Aku dan Gabriell memang tidak satu kelas, tapi kelas kami tidak begitu berjauhan. Maya terkejut melihat Gabriell dan aku menjadi akrab.

“Gabriell !” seru Tesya salah satu teman Maya. Tanpa ragu Gabriell pun menghampiri mereka.

“Ada apa kalian memanggilku?” sahut Gabriell dengan santainya.

“Kamu kok jadi akrab sih dengan Lita?” tanya Maya dengan nada ketus.

“Memangnya mengapa? Aku mempunyai hak untuk berteman dengan siapa saja. Orangtuaku saja tidak melarang ku untuk berteman dengan siapa saja, apalagi dengan Lita” jawab Gabriell.

“Kamu itu tidak setia kawan dengan kita semua. Mulai sekarang, aku keluarkan kamu dari genkku!” seru Maya.

“Ok, aku sangat bersedia keluar darigenk kamu yang tidak berguna itu. Memang inilah yang aku inginkan sejak lama dan akhirnya kini keinginanku tercapai. Terima kasih karena kau bersedia mengeluarkan aku dari kelompokmu itu.” ucap Gabriell sambil meninggalkan Maya dan teman-temannya itu. Wajah kesal dan marah  terlihat jelas pada Maya.

*****

“Lit, di waktu istirahat ini biasanya kamu ngapain?” tanya Gabriell yang menahanku tiba-tiba.

“Eh, kamu Gabriell. Mmm... biasanya aku sih shalat Dhuha dulu, setelah itu baru aku membeli sedikit jajanan kemudian ke perpustakaan deh” jelasku.

“Jadi, sekarang kamu mau shalat dulu?” tanyanya kembali.

“Iya” ucapku singkat “Kamu juga mau shalat?” sambungku.

“Maaf Lit, aku ini non muslim” jawabnya.

“Aduh, maaf ya Gabriell, jujur aku tidak tahu jika kamu itu non muslim. Sekali lagi maaf ya” ujarku.

“Tak apa kok, kamu kan tidak tahu jadi wajar saja. Tapi meskipun kita berbeda agama kamu tetap mau bersahabat denganku kan?” tanyanya.

“Tentu saja Gabriell, perbedaan itu bukan berarti sebagai penghalang untuk kita berteman. Justru perbedaan itu indah. Coba kamu bayangkan di Indonesia, terdapat berbagai macam agama, suku, budaya, adat-istiadat, dan sebagainya, semua itulah yang membuat Indonesia menjadi lebih kaya dan indah. Bahkan sampai banyak orang-orang asing yang ingin memiliki budaya-budaya yang ada di Indonesia. Kalau seandainya setiap orang membeda-bedakan , maka apa yang akan terjadi?” tanyaku.

“Tentu saja akan terjadi perpecahan dan mungkin setiap manusia hanya mementingkan satu kelompok saja dan mereka tidak akan mau bersosialisasi dengan kelompok lainnya” ujarnya.

“Nah, itu kamu tahu. Jadi kamu dan aku tetap menjadi sahabat. Ok!” ucapku sambil menunjukkan jari kelingkingku sebagai tanda persahabatan.

“Perbedaan itu indah” teriakku bersamaan dengan Gabriell.

“Yasudah aku shalat dulu ya” ucapku.

“Iya aku tunggu kamu di sini ya” teriaknya.

            Usai shalat aku segera menuju tempat dimana aku dan Gabriell tadi bertemu. Namun, di pertengahan jalan, Maya bersama dengan teman-temannya kembali menghadang jalanku.

“Lita, aku mau bicara sama kamu. Apa kamu yang menghasut  Gabriell untuk menjauhiku dan teman-temanku sampai dia keluar dari genkku, hah?” ucapnya dengan nada marah.

“Tidak, bukan Lita yang menghasutku untuk menjauh denganmu” seru Gabriell yang tiba-tiba datang di belakangku.

“Aku ingin menjauh darimu dan keluar dari genkmu karena kesadaran diriku sendiri. Aku tidak suka dengan semua sikapmu selama ini. Kamu selalu mengaturku dan teman-teman yang lain sesuka hatimu. Kamu juga tidak pernah menghargai orang lain. Hei Katrina, Tesya, Sari, Aini apa kalian tidak bosan dengan semua tingkah lakunya selama ini. Apa kalian mau untuk selalu diatur-atur olehnya. Apa kalian tidak menyadari jika selama ini aku dan kalian itu hanya dianggap sebagai pembantunya yang selalu untuk melakukan apa yang dia inginkan. Ingat perkataanku ini. Lebih baik kalian semua pergi dari sini !” ucap Gabriell.

Sungguh baru pertama kalinya aku melihat Gabriell semarah ini. Kulihat teman-teman Maya semuanya hanya terdiam mendengar pernyataan Gabriell dan mereka langsung pergi meninggalkan kami berdua.

“Sudah Lita jangan kau hiraukan perkataan mereka. Sekarang kita ke kantin saja dulu setelah itu baru kita ke perpustakaan” ajaknya. Aku hanya terdiam dan menuruti perkataan Gabriell, aku ingin membuatnya lebih tenang karena kemarahannya tadi.


****

“Gabriell, aku tidak menyangka kalau kamu akan semarah itu dengan Maya” ujarku.

“Aku hanya ingin mengutarakan padanya tentang apa yang aku rasakan selama aku berteman dengannya. Sudah jangan kau bahas lagi tentang dirinya, aku sedang tidak ingin mendengar namanya” pintanya padaku.


“Hei, ada apa ini? Nampaknya terlihat tegang” sapa Firman yang tiba-tiba datang.

“Hei, kamu jangan berisik. Harap tenang ini perpustakaan bukan lapangan, jangan berteriak” tegur sang penjaga perpustakaan.

“I..i..iya Pak” jawab Firman gugup. Aku dan Gabriell tertawa kecil karena melihat wajah Firman yang sedang panik.

“Huh, kalian berdua kok malah mentertawakan aku sih?” gerutu Firman.

“Maaf deh, maaf. Habis kamu lucu sih, sudah tahu ini perpustakaan biacaranya malah keras-keras” ucap Gabriell berbisik.

“Hehehe.. ya aku kan anak basket, jadi sudah terbiasa berteriak di lapangan” jawabnya dengan tertawa.

“Tapi seharusnya kamu bisa menyesuaikan tempat dong Firman” sambungku.

“Hehehe.. iya deh” jawabnya singkat.

  “Hai semua” sapa Andre.

“Hai juga Ndre” sahut Gabriell. Kehadiran Andre membuatku terdiam, entah mengapa setiap aku berada di dekatnya seperti kehabisan kata-kata untuk berbicara.

“Kok kamu diam, Lit?” tegur Andre.

“Oh, ini aku mungkin terlalu serius membaca buku ini” jawabku gugup.

“Tapi tadi aku lihat kamu sedang bersenda gurau dengan Gabriell dan Firman. Tapi ketika aku datang, kamu justru terdiam” tanyanya yang membuat aku benar-benar tidak tahu untuk berkata apa.

“Mungkin dia menyukaimu, jadi dia malu jika bertemu denganmu” sahut Gabriell.

“APA? Lita menyukai Andre??” teriak Firman yang membuat semua pengunjung perpustakaan terkejut.

“Sssstttt... Firman jangan berisik” teriak semua teman-teman yang ada di perpustakaan. Seketika Firman langsung menutup mulutnya dan kembali membuat kami tertawa dengan tingkah lakunya.

“Tidak kok. Gabriell hanya asal berbicara saja” ucapku menolak.

            Aku sangat malu karena kejadian tadi, sungguh aku merasa takut jika Andre tahu aku menyukainya. Aku heran, mengapa Gabriell bisa tahu aku menyukai Andre, sementara aku belum menceritakan apa-apa tentang Andre kepadanya.

“Kamu beneran suka sama Andre kan , Lit?” tanya Gabriell yang membangunkanku dari lamunanku.

“Ah tidak kok, kamu ini sok tahu deh” ucapku sambil menjulurkan lidahku.

“Kamu tidak usah berbohong denganku. Aku tahu kok jika kamu sebenarnya memang menyukai Andre. Sewaktu aku di rumahmu, aku tidak sengaja menemukan gulungan kertas di bawah tempat tidurmu. Kertas itu bertuliskan ‘AKU MENYUKAIMU TETAPI AKU TAKUT DENGAN PERBEDAAN ITU- ANDRE’, sungguh aku tidak sengaja membaca kertas itu. Maafkan aku Lita jika aku sudah lancang padamu” ujarnya.

“Oh.. tak apalah aku memaafkanmu. Lagipula kamu menemukannya dengan tidak sengaja.  Kini kamu telah mengetahui perasaanku sesungguhnya Gabriell. Aku harap kamu dapat merahasiakan ini, aku mempercayaimu” ucapku.

“Tenang saja, aku akan menjaga rahasiamu dengan sebaik-baiknya. Aku janji Lit, terima kasih karena kamu mau mempercayaiku. Tapi ada satu hal yang ingin aku katakan padamu” ucapnya yang membuatku menjadi terheran.

“Apa?” tanyaku penasaran.

“Sebenarnya Firman itu menyukaimu. Orang yang disukai oleh Maya yang menyukaimu adalah Firman”.

Sungguh aku sangat terkejut mendengarnya, aku tidak menyangka jika selama ini Firman menyukaiku. Pantas saja tingkah laku dia dihadapanku terasa begitu berbeda.

“Dan apakah kamu tahu siapa yang selama ini pengirim pesan misterius itu?” tanyanya.

“Kok kamu tahu soal pengirim pesan misterius itu?” tanyaku kembali.

“Selama ini Firman selalu menceritakan semua perasaannya padaku. Termasuk soal pengirim pesan itu, dia adalah Firman. Dia ingin lebih dekat denganmu dengan mengirim pesan setiap malam tanpa memberitahu siapa dirinya” jelasnya. Ternyata selama ini pengirim misterius itu adalah Firman.

*****

            Seperti biasanya, namun kali ini aku benar-benar menunggu pesan dari Firman sang pengirim misterius. Sudah cukup lama aku menunggu, namu tak ada satu pun pesan darinya. Ketika nada dering handphoneku berbunyi segera cepat-cepat aku membukanya, namun ternyata setiap kali ku buka, pesan itu bukan datang dari Firman, melainkan dari operator.

“Huh.. aku kira pesan itu dari Firman, ternyata dari operator” keluhku setiap kali membuka pesan dari operator.

            Tak lama sebuah pesan masuk ke handphoneku. “Pasti dari operator lagi” gerutuku sambil membuka pesan itu. Namun ternyata dugaanku salah. Pesan bukan datang dari operator melainkan dari Firman. Segera ku buka pesan itu .

“Aku tahu kamu pasti sedang menunggu pesan dariku kan? Dan kini kamu telah mengetahui siapa diriku sebenarnya. Iya, aku adalah Firman, aku adalah orang yang mengagumimu selama ini namun aku takut untuk mengutarakannya padamu. Selama ini aku menyembunyikan identitasku karena aku takut jika kamu tahu aku adalah Firman, kamu akan marah dan akan menjauhi diriku” ucapnya dalam sebuah pesan.

“Mengapa kau tahu jika aku sedang menunggu pesan darimu? Tidak Firman, tidak mungkin aku akan menjauhimu. Alasan apa yang tepat untuk aku menjauhimu? Apa karena kau menyukaiku, itu bukan alasan yang tepat” balasku.

Sungguh aku bingung dengan perasaanku kini. Aku menyukai Andre yang berbeda keyakinan denganku, di sisi lain ada Firman yang menyukaiku tetapi dia satu keyakinan denganku. Tetapi apapun perasaanku, tetap ada satu tekadku. Yaitu untuk tidak berpacaran saat ini hingga nanti aku bisa mencari kehidupanku sendiri, karena itu hanya akan membuang waktuku dengan percuma. Belajar, menuntut ilmu adalah hal yang harus kulakukan saat ini dan seterusnya, bukan untuk berpacaran. Tunggu hingga waktu yang tepat untukku menjalin suatu hubungan. Siapapun yang aku sukai saat ini, itupun hanya sebatas teman.

            Pesan dari Firman kembali ku terima.

“Ya.. aku hanya menebak saja. Kamu memang pantas untuk kukagumi Lita,kamu itu perempuan baik-baik. Tetapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Apakah benar jika kamu menyukai Andre? jangan kamu pikir aku diberi tahu Gabriell, aku hanya melihat dari tatapan mata kamu dan sikap kamu jika ada Andre”.

Firman tahu jika aku menyukai Andre, apa yang harus katakan?. “Maaf untuk hal itu aku tidak bisa memberi jawaban untukmu. Maaf Firman aku harus belajar. Assalamu’alaikum” balasku.

*****

            Hari ini aku tidak berangkat sekolah dengan Gabriell. Mengapa ia tidak bilang terlebih dahulu padaku?. Karena penasaran dengan keadaan Gabriell, aku segera mencarinya. Ku tuju sebuah kelas dimana Gabriell berada, namun tak kulihat ia berada di sana hanya tasnya saja yang ada di atas kursi. Bertanya kepada teman sekelas Gabriell telah kulakukan, tetap saja tak ada satu pun yang tahu.

            Tak sengaja ku temukan buku kecil berada dii kolong meja Gabriell. Awalnya, aku tak berniat untuk membacanya karena itu bukan milikku, namun ketika ku lihat cover itu bertuliskan “GABRIELL DIARY” maka rasa penasaran menghantuiku. Ketika ku buka dan ku baca, ternyata diary itu berisi tentang Andre.

“Jadi selama ini Gabriell telah menyukai Andre lebih dahulu dibandingkan aku. Ya Allah.. jadi aku telah melukai hatinya” ucapku dalam hati. Segera ku berlari ke tempat biasa aku dan Gabriell bersenda gurau, ketika aku berlari tiba-tiba Maya bersama teman-temannya berada di depanku. Seperti biasa, mereka kembali mengolok-olokku.

“Lita kamu itu gak tahu ya, kalau Gabriell itu suka sama Andre. Sepertinya kamu akan siap-siap kehilangan Gabriell deh” ucap Maya dengan nada ketusnya. Aku hanya terdiam dan kemudian ku lanjutkan langkahku berlari menuju tempat itu.

            Ku lihat Gabriell sedang duduk termenung, segera ku hampiri dirinya.

“Gabriell, are you okay?” tanyaku pelan.

“Aku baik-baik saja kok” jawabnya singkat.

“Kamu marah denganku?” tanyaku kembali.

“Tidak Lita, untuk apa aku marah sama kamu. Kamu kan sahabat aku” jelasnya.

“Tapi aku tahu, kamu pasti kecewa denganku karena aku menyukai Andre. Mengapa tidak kamu katakan yang sesungguhnya kepadaku?” tanyaku.

“Aku memang sedikit kecewa, tapi aku tidak marah denganmu. Untuk apa kita marahan hanya karena masalah kecil seperti ini. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan persahabatan kita. Aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku ingin menjaga perasaanmu” jawabnya.

“Gabriell, kamu memang sahabat terbaikku. Tetapi kali ini aku yang tidak menjaga perasaanmu. Maafkan aku Gabriell” ujarku.

“Sudah aku maafkan kok Lit. Mulai sekarang jangan sampai terulang lagi ya kejadian seperti ini, yaitu menyukai orang yang sama hehehe..” ucapnya. Akhirnya keadaanku dengan Gabriell kembali seperti semula. Kemudian kami membuat perjanjian untuk tidak berpacaran sampai kami sukses nanti.

“Hei, sedang apa kalian berdua?” sapa Andre.

“Gab, ada Andre tuh” ujarku.

“Lita, apaan sih?”sahut Gabriell dengan wajah malunya.

“Hai, lagi pada kumpul nih. Boleh ikutan kan?” seru Firman.
“Firman?” sahutku.

“Hai, Lit. Bolehkah aku berbicara sebentar denganmu” tanyanya.
Firman mau bicara apa ya denganku, nampaknya serius sekali. “Boleh. Tetapi bicaranya disini saja ya, kalau kita hanya berbicara berdua takutnya akan ada salah paham” ucapku.

“Iya, tak apa kok. Sekalian Andre dan Gabriell mengetahuinya” ujarnya.

“Lita, sebenarnya aku menyukaimu bahkan menyayangimu dan apakah kamu mau menjadi pacarku?” ucapnya.

Aku terkejut karena Firman menyatakan perasaannya secara langsung padaku.

“Sebelumnya aku minta maaf padamu Firman. Kita ini kan masih kecil, kita belum bisa menghidupi diri kita 
sendiri. Jadi, untuk apa kita berpacaran? Itu hanya akan membuang waktu kita. Rasa sayang kepada orang lain bukan dengan wujud berpacaran, melainkan bagaimana kita melindungi dan mengasihinya. Dengan menjadi teman, kamu masih bisa memberikan kasih sayangmu untukku. Jadi maaf ya Firman” jelasku

 “Apa yang kamu katakan itu benar, Lit. Dan baiklah kalau itu maumu, kalau jadi sahabat boleh kan?” tanyanya kembali.

“Tentu boleh dong” jawabku dengan tersenyum.

“Aku juga mau jadi sahabatmu Gabriell” seru Andre tiba-tiba.

“Hah? Apa? Bo..boleh” jawab Gabriell gugup.

“Kalau begitu kita berempat jadi sahabat saja” saran Firman.

“Aku setuju dengan saran Firman. Kalian berdua bagaimana?” tanyaku pada Andre dan Gabriell.
“Setuju !” jawab mereka serempak.

            Tesya, Aini, Sari dan Katrina tiba-tiba datang menghampiri kami.

“Kalian? Ada apa kalian kesini? Apa kalian mau membuat masalah lagi dengan kami?” sahut Gabriell dengan ketus.

“Gabriell, kamu tidak boleh seperti itu. Biar bagaimana pun juga mereka tetap teman kita” jelasku.

“Iya, maaf Lit” ucap Gabriell.

“Minta maaflah dengan mereka” ujarku.

“Memangnya kalian semua ada apa menemui kami? Dimana Maya, kok tidak bersama dengan kalian?” tanyaku heran.

“Kami ingin meminta maaf denganmu dan juga Gabriell” ucap Katrina.

“Maaf untuk apa?” tanyaku kembali.

“Kami meminta maaf karena dulu kami sempat jahat kepadamu Lita” sahut Tesya.

“Iya benar, Lit. Kami tidak mau lagi dekat dengan Maya, karena Maya bukan teman yang baik untuk kami” sambung Sari.

“Maya sudah pindah dari sekolah ini. Tadi orang tuanya datang menemui Maya. Orangtuanya berkata jika selama ini Maya suka mengambil uang milik orang tuanya tanpa izin terlebih dahulu. Sekarang orang tua Maya ingin membawa Maya ke rumah neneknya dan memindahkannya ke sebuah Pesantren. Dan kami ingin menjadi temanmu” sambung Aini.

“Kami menyadari ini sejak perkataanmu Gabriell. Kamu benar jika selama ini kita hanya dijadikan alat untuk pemuasan Maya sendiri” sahut Tesya kembali.

“Sudah, tidak baik jika kita menceritakan kejelekan orang lain. Aku, Gabriell, Andre, dan Firman mau kok jadi teman kalian. Iya kan?” ucapku tersenyum.

“Iya dong” jawab mereka serempak.

“Lagipula kan jadi lebih seru kalau banyak teman” sambung Firman.

“Kalau begitu, sekalian saja kalian semua jadi sahabat kita” sahut Gabriell.

“Berarti aku dan Firman hanya berdua doang dong yang cowok?” seru Andre.

“Tak apa. Memangnya ada yang salah?” tanya Gabriell.

“Ya.. tidak sih” jawab Andre singkat. “Berarti sekarang kita ber.. satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan menjadi sahabat. Ok!” sahutku dengan semangat.

“Ok!” jawab semua dengan serempak.

            Kini kami selalu bersama, dimana pun dan kemana pun kami tetap bersama. Di saat suka maupun duka juga tetap bersama. Bahu-membahu kami lakukan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Belajar bersama, kumpul-kumpul, bersantai bareng, selalu kami lakukan. Sampai-sampai di suatu hari, kami melakukan kumpul bersama dengan membawa anggota keluarga masing-masing. Betapa bahagianya Tuhan mengkaruniakan orang-orang seperti mereka. Saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Persahabatan itu sa...ngat indah karena persahabatan adalah penyatu hati sanubari seluruh manusia dan persahabatan itu jauh lebih kuat dibandingkan dengan perang. Dengan persahabatan, sekeras apapun hati manusia, pada akhirnya ia pun akan luluh. Jagalah sahabatmu karena ia adalah pelengkap hidupmu and never say Good Bye to your Best Friend, karena persahabatan adalah warna-warni hidupmu.
-TAMAT-
Noviana A.R


0 komentar:

Posting Komentar

 
;