KUCING SEBUAH TANDAPERSAHABATAN
“Meong.. meong..” hmm.. suara kucing lucu itu menghiasi
keluarga Tio di pagi hari. Anak laki-laki itu memang penggemar kucing begitu
pun dengan keluarganya. Tio memberi nama kucing kesayangannya itu “Miing”.
Entah bagaimana awal ceritanya ia begitu menyukai kucing.
Tio memiliki seorang sahabat bernama Eren. Berbeda dari
Tio, Eren sangat tidak menyukai kucing. Menurut Eren kucing itu menggelikan
apalagi dengan rambut-rambut di tubuhnya. Tio memaklumi sahabatnnya yang tidak
meyukai kucing, maka ketika Eren bermain di rumahnya ia segera memasukkan Miing
ke dalam kandangnya. Persahabatan mereka dimulai ketika mereka duduk di bangku
kelas 3 SD dan kini tak jarang untuk mereka selalu bersama, walaupun saat ini
mereka tidak berada di satu sekolah yang sama.
“Tio.. banguuuuunnnnn!!” seru mamanya saat membangunkan
Tio dari tidurnya.
“Iya mah..” sahut Tio.
Meskipun ia sudah menjawab seruan mamanya, namun ia
tertidur kembali. Karena tau pemiliknya itu sulit dibangunkan, Miing pun datang
menghampiri Tio sambil mengelus wajah Tio. Mungkin kalau kucing itu dapat
berbicara, kucing itu ingin berkata “Tio.. bangun!” dan mengucapnya hingga
berulang kali. Namun, Miing hanya dapat mengeluarkan suara kucing seperti kucing pada umumnya. Akhirnya,
Tio pun terbangun dan menyapa kucing kesayangannya itu.
“Pagi Miing..” sapanya.
“Pagi juga” mungkin itu kalimat yang akan disampaikan
Miing jika ia dapat berbicara.
Segera Tio bergegas menyiapkan diri untuk berangkat ke
sekolah. Tapi, sebelum berangkat sudah menjadi kebiasaannya memberi sarapan
untuk Miing.
“Tioooooo.. Tioooooo” teriak seorang gadis di depan
gerbang rumahnya.
“Iyaaa.. kebiasaan kamu Ren teriak-teriak gak jelas.
Berisik tau, kasihan tuh tetangga-tetangga kita gara-gara suara kamu yang jelek
itu” ledek Tio
“Yee.. yaudah sih” sahut Eren dengan wajah ditekuk.
“Hahaha.. aku hanya bercanda, jangan dimasukkan ke
dalam hati. Dimasukkin ke kantong aja” canda Tio kembali.
“Terserah apa kata kamu aja deh. Udah yuk berangkat,
kucing kamu kan udah selesai tuh makannya” ajak Eren.
“Iya iya. Daaahhhh.. Miing ! Tio berangkat dulu ya,
jangan nakal loh” kata Tio pada Miing.
“Iya” sahut Eren yang mewakili suara Miing.
Ya.. begitulah kebiasaan mereka sebelum berangkat
sekolah. Rumah mereka memang berdekatan, jadi tidak heran jika kemana-kemana
mereka selalu bersama termasuk pergi ke sekolah. Meskipun tidak berada di satu
sekolah yang sama, tapi arah sekolah mereka sama dan tidak bejauhan pula.
*****
“Erennnn cepetan!” teriak Tio di pintu gerbang sekolah
Eren.
“Iya, iya” jawab Eren sambil berlari menuju Tio.
“Kamu jalan lama banget sih, kaya siput tau enggak?” ledek Tio
“Ih..! kamu gak liat tadi gue udah lari” gerutu Eren.
“Hahaha.. lucu deh kalau kamu lagi cemberut kaya gitu” ledek
Tio kembali.
“Tau ah! Udah yok pulang!” ajak Eren sambil menarik
tangan Tio.
Saat perjalanan pulang, tiba-tiba sebuah mobil
menyerempet mereka. Seketika mereka pun terjatuh dan si pemilik mobil segera
turun dan menghampiri mereka.
“Aduh.. maaf ya, maafin aku dan supirku. Supirku tadi
tidak hati-hati dan tidak melihat jika ada kalian berdua sedang berjalan” seru
seorang perempuan dengan seragam yang sama seperti Tio.
“Iya iya gapapa . Kita berdua juga baik-baik aja kok”
jawab Tio.
“Apa perlu aku bawa kalian ke dokter. Kelihatannya
temanmu itu terluka” kata gadis itu.
“Eren? kamu gapapa kan? Tangan kamu luka tuh” sahut Tio
dengan wajah panik.
“Aku gapapa kok, gak usah dibawa ke dokter. Nanti biar
diobatin di rumah aja” seru Eren dengan nada kesakitan.
“Yaudah.. kalau gitu, aku antar kalian pulang aja ya” Gadis
itu menawarkan.
“Oh ya kenalin, namaku Gladis” sambung Gladis sambil
menjulurkan tangannya kepada Tio dan Eren.
“Aku Tio dan ini sahabatku Eren” jelas Tio
“Ayo, kalian berdua masuk ke mobilku!” ajak Gladis.
Di dalam mobil Gladis terlihat oleh Tio seekor binatang
kesukaannya. Ya.. apalagi kalau bukan kucing. Segera Tio menggendong kucing itu
dan mengusapnya dengan lembut. Sementara Eren berusaha menyingkirkan tubuhnya
agar menjauh dari kucing.
“Kamu suka kucing juga ya?” tanya Gladis.
“Iya, aku suka banget sama kucing. Apapun jenisnya, aku
tetap menyukainya dan di rumah aku mempunyai seekor kucing, namanya Miing”
jelas Tio panjang kali lebar.
“Wah..! lucu juga namanya. Kapan-kapan aku boleh kan
main ke rumah kamu? Supaya kucingku dan kucing kamu berteman” seru Gladis.
“Boleh kok, boleh banget. Oh ya, kamu itu anak baru di
sekolahku ya?” tanya Tio penasaran.
“Kepo banget sih kamu” sahut Eren yang nampaknya mulai
jenuh dengan pembicaraan antara Tio dan Gladis.
“Iya, Tio. Aku memang murid baru, aku kelas 8D” jawab
Gladis.
“Wah.. aku kan juga kelas 8D. Berarti kita satu kelas
dong” seru Tio bersemangat.
“Haha.. iya, Tio” jawab Gladis.
Eren hanya dapat menekukkan wajahnya selama di dalam
mobil. Diam-diam ia begitu merasa cemburu dengan keakraban Tio dengan Gladis
yang baru saja beberapa menit berkenalan. Membahas mengenai mereka yang
sama-sama menyukai kucing, membuat Eren semakin gelisah.
*****
Keesokan harinya, sepulang sekolah Tio dan Gladis
janjian untuk pergi ke sebuah Pet Shop. Mereka ingin membeli perlengkapan untuk kucing. Sementara
Eren tidak tau jika ternyata Tio tidak menjemputnya.
“Tio kemana sih? Tumben gak jemput aku?” tanya Eren
dalam kegelisahannya.
Kringgg.. handphone
Tio berdering tanda adanya panggilan masuk. “Sahabatku” nama kontak tertera
di panggilan itu.
“Halo! Tio, kamu dimana sih? Kok gak jemput aku? Aku
udah nunggu kamu dari tadi” tanya Eren gelisah.
“Ren, sorry aku
lupa bilang sama kamu, kalau sekarang aku lagi di Pet Shop sama Gladis. Dia mau
main ke rumah aku tau” jawab Tio kegirangan.
“Oh, gitu. Yaudah” jawab Eren singkat
Tut.. tut.. tut.. panggilan terputus
“Eren kenapa sih? Aku kan belum selesai ngomong, udah
diputusin aja” kata Tio dalam hati.
Setelah membayar ke kasir atas barang-barang yang telah
dibeli, Tio dan Gladis segera beranjak menuju rumah Tio. Selama di perjalanan
mereka asyik membahas mengenai kucing.
Sesampainya
di rumah.....
“Gladis, ayo masuk! Kita ke halaman
belakang rumah aja, biar kita bisa leluasa main kucingnya” ajak Tio penuh
semangat.
“Ayok” jawab Gladis sambil
menggendong kucingnya.
Dan mereka pun mengahabiskan waktu
untuk bermain-main dengan kucing. Tio tidak tau jika Eren melihatnya begitu
akrab dengan Gladis dari kejauhan. Eren segera berlari menuju rumahnya, segala
perasaan bercampur menjadi satu. Dia cemburu, sedih, kesal, karena melihat
sahabatnya dekat dengan orang yang baru dikenalnya dalam waktu singkat.
*****
Pagi ini, Eren tak menampakkan diri
di depan rumah Tio. Sudah beberapa menit Tio menunggu, namun Eren tetap tidak
datang. Akhirnya, Tio segera menghampiri rumah Eren untuk melihat apa yang
sebenarnya terjadi dengan Eren.
“Erennn!” sapa Tio.
“Tio? Ada apa?” seorang perempuan
keluar dari rumah Eren.
“Erennya ada tante?” tanya Tio.
“Eren? Erennya sudah berangkat. Eren
kan biasanya ke rumah kamu dulu” jawab tante Marissa, mamanya Eren.
“Oh.. sudah berangkat ya tante. Tadi
sih, Eren gak ke rumahku. Yasudah, kalau gitu aku berangkat ya tante” kata Tio
menyesal.
Sepulang
sekolah....
“Tio? Kamu ngapain disini?” tanya
Eren.
“Kok kamu ngomongnya gitu sih?
Kan biasanya aku jemput aku disini”
jawab Tio
“Oh, masih ingat aku?”
“Ya.. masihlah. Kamu kan sahabat aku
yang paling baiiikkk” jawab Tio lebay.
“Masa sih? Bukannya kamu udah punya
sahabat baru?” kata Eren dengan nada kesal.
“Siapa? Gladis? Oh... jadi ceritanya
sahabatku yang satu ini cemburu” ledek Tio.
“Ih! Geer banget sih kamu! Siapa yang cemburu? Aku sih enggak” gerutu Eren
“Kalau boleh jujur sih.. aku emang
suka sama Gladis” kata Tio sambil cengengesan
dan membuat Eren terkejut.
Eren hanya terdiam dan tak mengucapkan
sepatah kata pun. Seperti biasanya, mereka pulang bersama menuju rumah. Canda
dan tawa menghiasi setiap langkah yang mereka lalui. Kehangatan itu kembali
hadir dan Eren merasa sangat bahagia karena ternyata Tio tidak berubah seperti
apa yang dia pikirkan. Walaupun ia masih terbebani dengan ucapan Tio yang
diam-diam ternyata menyukai Gladis.
*****
Pagi ini, Tio dan Eren melakukan
kegiatan rutin di hari Minggunya. Mereka lari pagi bersama mengitari komplek
perumahan. Seperi biasa pula, Tio membawa Miing si kucing kesayangannya.
Semenjak Eren melihat Tio dan Gladis yang akrab karena kucing, kini Eren
berusaha sebisa mungkin untuk menyukai kucing.
“Ren.. kamu tunggu sini ya. Jagain
kucing aku, jangan sampai kemana-mana. Aku mau beli makanan sama minuman dulu
buat kita” kata Tio yang mulai percaya untuk menitipkan kucingnya itu pada
Eren.
“Iya, iya. Jangan lama-lama ya”
pinta Eren.
Tiba-tiba Eren melihat ada aksesoris
yang dijajakan di pinggir jalan. Ia ingin membelikannya untuk Miing. Entah
karena ia lupa atau bagaimana, ketika kembali ke tempat dimana ia dan Tio serta
Miing duduk, ternyata Miing dalam keadaan lemah tidak berdaya. Awalnya, Eren
mengira kalau Miing sedang tertidur tapi ternyata Eren menemukan sebuah karet
gelang menyangkut di dalam mulutnya Miing. Seketika wajah Eren berubah menjadi
panik dan tiba-tiba Tio datang menghampiri kucingnya itu.
“Miinggggg!” teriak Tio dengan wajah
panik.
“Miing kenapa, Ren? Kenapa?” tanya
Tio dengan nada tinggi.
Baru pertama kalinya Eren melihat Tio
semarah ini. Eren hanya bisa menangis dan menangis, menyesali apa yang terjadi.
“Aku.. aku .. gatau Tio. Tadi..”
belum sempat Eren melanjutkan perkataannya, Tio langsung memotong perkataannya.
“Aku tau, Ren kalau kamu itu emang
gak suka sama kucing. Tapi bukan berarti kucing aku sampe kamu bunuh kaya gin
!!!i” bentak Tio.
Mendengar perkataan Tio, Eren segera
berlari sejauh mungkin dengan air mata yang mengalir terus-menerus di pipinya.
Ia tidak habis berpikir, mengapa Tio sampai berkata seperti itu yang membuat
Eren semakin terluka. Sementara Tio fokus mengurus kucingnya.
*****
Sudah hampir sebulan mereka
bermusuhan dan tidak terlihat lagi canda tawa dari bibir mereka. Semuanya
begitu berubah, bagaikan air yang berubah menjadi api. Jangankan untuk
berbicara, menyapa saja mereka tidak pernah lakukan lagi.
Sebenarnya Eren ingin sekali
berbicara pada Tio dan meminta maaf padanya atas kesalahan yang ia perbuat.
Namun, Tio tetap tidak mau mendengarkan penjelasan Eren. Dari lubuk hati mereka
terdalam sebenarnya mereka tidak ingin bermusuhan selama ini.
Eren bingung, entah apa yang mesti
ia perbuat agar Tio memaafkannya. Selama ia bermusuhan, Tio menjadi semakin
dekat dengan Gladis. Hampir setiap hari Eren melihat Gladis berada di rumah
sahabatnya yang sekarang menjadi musuh
itu. Hati Eren semakin terluka, hanya menangis dan menangis yang bisa ia
lakukan.
Beberapa
hari kemudian..
Terdapat sebuah kotak di depan rumah
Tio bertuliskan “Untuk sahabat gue Tio”. Segera Tio membuka kotak tersebut.
Setelah dibukanya, terdapat 7 ekor kucing lengkap dengan kandang serta
perlengkapan lainnya. Di dalam kotak terselipkan sepucuk surat, surat itu
bertuliskan:
“Tio..
aku minta maaf ya atas kejadian satu bulan yang lalu. Jujur, bukan aku yang
menyebabkan Miing mati. Di dalam kotak itu ada sebuah karet gelang yang waktu
itu aku temukan di dalam mulutnya Miing. Mungkin pada saat itu Miing mati
karena menelan karet itu. Oh ya, itu kado buat lo. Itu aku beli pake uangku
sendiri loh. Hasil dari aku ngumpulin selama satu tahun. Gara-gara kamu,
sekarang aku jadi suka loh sama kucing, bahkan aku sampai melihara. Oh ya,aku
ucapin selamat ya karena kamu udah bisa dapatkan apa yang kamu mau, yaitu
Gladis orang yang kamu suka selama ini. Aku bahagia kalau kamu bahagia.
Awalnya
aku emang pernah menganggap kamu lebih dari sahabat, tapi nyatanya kamu itu
sukanya sama Gladis. Jadi, sekarang aku sadar kalau kita itu ditakdirin hanya
sebagai sahabat J. Tapi
aku bahagia bangettt bisa jadi sahabat kamu. Rawat ya kucing itu, ya..
mungkin kucing itu bisa menggantikan Miing. Anggap kucing itu adalah aku dan
sekaligus sebagai tanda persahabatan kita. Sekali lagi aku minta maaf ya.
Sekarang aku harus pindah ke Bandung. Aku akan selalu inget kamu, selamanya.
YOU ARE MY BEST FRIEND IN THE WORLD”
|
Tetes demi tetes air mata
berjatuhan. Tio sangat menyesal dengan apa yang dia perbuat kepada sahabatnya. Yang
selama ini begitu tulus menyayanginya. Tio menyesal karena tidak mendengarkan
penjelasan darinya.
“Eren.. kamu memang sahabatku yang
paling baik. Aku juga tidak akan melupakan semua kebaikan, kenangan, dan
keindahan p$ersahabatan kita selama ini. Aku juga sayang sama kamu dan aku
janji akan merawat kucing ini dengan tulus, setulus kamu menyayangi aku. YOU
ARE MY BEST FRIEDN IN THE WORLD”
-TAMAT-
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact