Rabu, 25 Desember 2013

CERPEN REMAJA - KUCING SEBUAH TANDA PERSAHABATAN

KUCING SEBUAH TANDAPERSAHABATAN

“Meong.. meong..” hmm.. suara kucing lucu itu menghiasi keluarga Tio di pagi hari. Anak laki-laki itu memang penggemar kucing begitu pun dengan keluarganya. Tio memberi nama kucing kesayangannya itu “Miing”. Entah bagaimana awal ceritanya ia begitu menyukai kucing.

Tio memiliki seorang sahabat bernama Eren. Berbeda dari Tio, Eren sangat tidak menyukai kucing. Menurut Eren kucing itu menggelikan apalagi dengan rambut-rambut di tubuhnya. Tio memaklumi sahabatnnya yang tidak meyukai kucing, maka ketika Eren bermain di rumahnya ia segera memasukkan Miing ke dalam kandangnya. Persahabatan mereka dimulai ketika mereka duduk di bangku kelas 3 SD dan kini tak jarang untuk mereka selalu bersama, walaupun saat ini mereka tidak berada di satu sekolah yang sama.

“Tio.. banguuuuunnnnn!!” seru mamanya saat membangunkan Tio dari tidurnya.

“Iya mah..” sahut Tio.

Meskipun ia sudah menjawab seruan mamanya, namun ia tertidur kembali. Karena tau pemiliknya itu sulit dibangunkan, Miing pun datang menghampiri Tio sambil mengelus wajah Tio. Mungkin kalau kucing itu dapat berbicara, kucing itu ingin berkata “Tio.. bangun!” dan mengucapnya hingga berulang kali. Namun, Miing hanya dapat mengeluarkan suara  kucing seperti kucing pada umumnya. Akhirnya, Tio pun terbangun dan menyapa kucing kesayangannya itu.
“Pagi Miing..” sapanya.

“Pagi juga” mungkin itu kalimat yang akan disampaikan Miing jika ia dapat berbicara.

Segera Tio bergegas menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Tapi, sebelum berangkat sudah menjadi kebiasaannya memberi sarapan untuk Miing.

“Tioooooo.. Tioooooo” teriak seorang gadis di depan gerbang rumahnya.

“Iyaaa.. kebiasaan kamu Ren teriak-teriak gak jelas. Berisik tau, kasihan tuh tetangga-tetangga kita gara-gara suara kamu yang jelek itu” ledek Tio

“Yee.. yaudah sih” sahut Eren dengan wajah ditekuk.

“Hahaha.. aku hanya bercanda, jangan dimasukkan ke dalam hati. Dimasukkin ke kantong aja” canda Tio kembali.

“Terserah apa kata kamu aja deh. Udah yuk berangkat, kucing kamu kan udah selesai tuh makannya” ajak Eren.

“Iya iya. Daaahhhh.. Miing ! Tio berangkat dulu ya, jangan nakal loh” kata Tio pada Miing.

“Iya” sahut Eren yang mewakili suara Miing.

Ya.. begitulah kebiasaan mereka sebelum berangkat sekolah. Rumah mereka memang berdekatan, jadi tidak heran jika kemana-kemana mereka selalu bersama termasuk pergi ke sekolah. Meskipun tidak berada di satu sekolah yang sama, tapi arah sekolah mereka sama dan tidak bejauhan pula.
*****

“Erennnn cepetan!” teriak Tio di pintu gerbang sekolah Eren.

“Iya, iya” jawab Eren sambil berlari menuju Tio.

“Kamu jalan lama banget sih, kaya siput tau enggak?” ledek Tio

“Ih..! kamu gak liat tadi gue udah lari” gerutu Eren.

“Hahaha.. lucu deh kalau kamu lagi cemberut kaya gitu” ledek Tio kembali.

“Tau ah! Udah yok pulang!” ajak Eren sambil menarik tangan Tio.

Saat perjalanan pulang, tiba-tiba sebuah mobil menyerempet mereka. Seketika mereka pun terjatuh dan si pemilik mobil segera turun dan menghampiri mereka.

“Aduh.. maaf ya, maafin aku dan supirku. Supirku tadi tidak hati-hati dan tidak melihat jika ada kalian berdua sedang berjalan” seru seorang perempuan dengan seragam yang sama seperti Tio.

“Iya iya gapapa . Kita berdua juga baik-baik aja kok” jawab Tio.

“Apa perlu aku bawa kalian ke dokter. Kelihatannya temanmu itu terluka” kata gadis itu.

“Eren? kamu gapapa kan? Tangan kamu luka tuh” sahut Tio dengan wajah panik.

“Aku gapapa kok, gak usah dibawa ke dokter. Nanti biar diobatin di rumah aja” seru Eren dengan nada kesakitan.

“Yaudah.. kalau gitu, aku antar kalian pulang aja ya” Gadis itu menawarkan.

“Oh ya kenalin, namaku Gladis” sambung Gladis sambil menjulurkan tangannya kepada Tio dan Eren.

“Aku Tio dan ini sahabatku Eren” jelas Tio

“Ayo, kalian berdua masuk ke mobilku!” ajak Gladis.

Di dalam mobil Gladis terlihat oleh Tio seekor binatang kesukaannya. Ya.. apalagi kalau bukan kucing. Segera Tio menggendong kucing itu dan mengusapnya dengan lembut. Sementara Eren berusaha menyingkirkan tubuhnya agar menjauh dari kucing.

“Kamu suka kucing juga ya?” tanya Gladis.

“Iya, aku suka banget sama kucing. Apapun jenisnya, aku tetap menyukainya dan di rumah aku mempunyai seekor kucing, namanya Miing” jelas Tio panjang kali lebar.

“Wah..! lucu juga namanya. Kapan-kapan aku boleh kan main ke rumah kamu? Supaya kucingku dan kucing kamu berteman” seru Gladis.

“Boleh kok, boleh banget. Oh ya, kamu itu anak baru di sekolahku ya?” tanya Tio penasaran.

“Kepo banget sih kamu” sahut Eren yang nampaknya mulai jenuh dengan pembicaraan antara Tio dan Gladis.

“Iya, Tio. Aku memang murid baru, aku kelas 8D” jawab Gladis.

“Wah.. aku kan juga kelas 8D. Berarti kita satu kelas dong” seru Tio bersemangat.

“Haha.. iya, Tio” jawab Gladis.

Eren hanya dapat menekukkan wajahnya selama di dalam mobil. Diam-diam ia begitu merasa cemburu dengan keakraban Tio dengan Gladis yang baru saja beberapa menit berkenalan. Membahas mengenai mereka yang sama-sama menyukai kucing, membuat Eren semakin gelisah.
*****
Keesokan harinya, sepulang sekolah Tio dan Gladis janjian untuk pergi ke sebuah Pet Shop. Mereka ingin  membeli perlengkapan untuk kucing. Sementara Eren tidak tau jika ternyata Tio tidak menjemputnya.

“Tio kemana sih? Tumben gak jemput aku?” tanya Eren dalam kegelisahannya.

Kringgg.. handphone Tio berdering tanda adanya panggilan masuk. “Sahabatku” nama kontak tertera di panggilan itu.

“Halo! Tio, kamu dimana sih? Kok gak jemput aku? Aku udah nunggu kamu dari tadi” tanya Eren gelisah.

“Ren, sorry aku lupa bilang sama kamu, kalau sekarang aku lagi di Pet Shop sama Gladis. Dia mau main ke rumah aku tau” jawab Tio kegirangan.

“Oh, gitu. Yaudah” jawab Eren singkat
Tut.. tut.. tut.. panggilan terputus

“Eren kenapa sih? Aku kan belum selesai ngomong, udah diputusin aja” kata Tio dalam hati.

Setelah membayar ke kasir atas barang-barang yang telah dibeli, Tio dan Gladis segera beranjak menuju rumah Tio. Selama di perjalanan mereka asyik membahas mengenai kucing.
Sesampainya di rumah.....
      “Gladis, ayo masuk! Kita ke halaman belakang rumah aja, biar kita bisa leluasa main kucingnya” ajak Tio penuh semangat.

            “Ayok” jawab Gladis sambil menggendong kucingnya.

            Dan mereka pun mengahabiskan waktu untuk bermain-main dengan kucing. Tio tidak tau jika Eren melihatnya begitu akrab dengan Gladis dari kejauhan. Eren segera berlari menuju rumahnya, segala perasaan bercampur menjadi satu. Dia cemburu, sedih, kesal, karena melihat sahabatnya dekat dengan orang yang baru dikenalnya dalam waktu singkat.
*****
       Pagi ini, Eren tak menampakkan diri di depan rumah Tio. Sudah beberapa menit Tio menunggu, namun Eren tetap tidak datang. Akhirnya, Tio segera menghampiri rumah Eren untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan Eren.
            “Erennn!” sapa Tio.

            “Tio? Ada apa?” seorang perempuan keluar dari rumah Eren.

            “Erennya ada tante?” tanya Tio.

      “Eren? Erennya sudah berangkat. Eren kan biasanya ke rumah kamu dulu” jawab tante Marissa, mamanya Eren.

        “Oh.. sudah berangkat ya tante. Tadi sih, Eren gak ke rumahku. Yasudah, kalau gitu aku berangkat ya tante” kata Tio menyesal.
Sepulang sekolah....

            “Tio? Kamu ngapain disini?” tanya Eren.

            “Kok kamu ngomongnya gitu sih? Kan  biasanya aku jemput aku disini” jawab Tio

            “Oh, masih ingat aku?”

            “Ya.. masihlah. Kamu kan sahabat aku yang paling baiiikkk” jawab Tio lebay.

            “Masa sih? Bukannya kamu udah punya sahabat baru?” kata Eren dengan nada kesal.

            “Siapa? Gladis? Oh... jadi ceritanya sahabatku yang satu ini cemburu” ledek Tio.

            “Ih! Geer banget sih kamu! Siapa yang cemburu? Aku sih enggak” gerutu Eren

      “Kalau boleh jujur sih.. aku emang suka sama Gladis” kata Tio sambil cengengesan dan membuat Eren terkejut.

  Eren hanya terdiam dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Seperti biasanya, mereka pulang bersama menuju rumah. Canda dan tawa menghiasi setiap langkah yang mereka lalui. Kehangatan itu kembali hadir dan Eren merasa sangat bahagia karena ternyata Tio tidak berubah seperti apa yang dia pikirkan. Walaupun ia masih terbebani dengan ucapan Tio yang diam-diam ternyata menyukai Gladis.
*****
            Pagi ini, Tio dan Eren melakukan kegiatan rutin di hari Minggunya. Mereka lari pagi bersama mengitari komplek perumahan. Seperi biasa pula, Tio membawa Miing si kucing kesayangannya. Semenjak Eren melihat Tio dan Gladis yang akrab karena kucing, kini Eren berusaha sebisa mungkin untuk menyukai kucing.

            “Ren.. kamu tunggu sini ya. Jagain kucing aku, jangan sampai kemana-mana. Aku mau beli makanan sama minuman dulu buat kita” kata Tio yang mulai percaya untuk menitipkan kucingnya itu pada Eren.

            “Iya, iya. Jangan lama-lama ya” pinta Eren.

            Tiba-tiba Eren melihat ada aksesoris yang dijajakan di pinggir jalan. Ia ingin membelikannya untuk Miing. Entah karena ia lupa atau bagaimana, ketika kembali ke tempat dimana ia dan Tio serta Miing duduk, ternyata Miing dalam keadaan lemah tidak berdaya. Awalnya, Eren mengira kalau Miing sedang tertidur tapi ternyata Eren menemukan sebuah karet gelang menyangkut di dalam mulutnya Miing. Seketika wajah Eren berubah menjadi panik dan tiba-tiba Tio datang menghampiri kucingnya itu.

            “Miinggggg!” teriak Tio dengan wajah panik.

            “Miing kenapa, Ren? Kenapa?” tanya Tio dengan nada tinggi.

            Baru pertama kalinya Eren melihat Tio semarah ini. Eren hanya bisa menangis dan menangis, menyesali apa yang terjadi.

            “Aku.. aku .. gatau Tio. Tadi..” belum sempat Eren melanjutkan perkataannya, Tio langsung memotong perkataannya.

            “Aku tau, Ren kalau kamu itu emang gak suka sama kucing. Tapi bukan berarti kucing aku sampe kamu bunuh kaya gin !!!i” bentak Tio.

            Mendengar perkataan Tio, Eren segera berlari sejauh mungkin dengan air mata yang mengalir terus-menerus di pipinya. Ia tidak habis berpikir, mengapa Tio sampai berkata seperti itu yang membuat Eren semakin terluka. Sementara Tio fokus mengurus kucingnya.
*****
       Sudah hampir sebulan mereka bermusuhan dan tidak terlihat lagi canda tawa dari bibir mereka. Semuanya begitu berubah, bagaikan air yang berubah menjadi api. Jangankan untuk berbicara, menyapa saja mereka tidak pernah lakukan lagi.

            Sebenarnya Eren ingin sekali berbicara pada Tio dan meminta maaf padanya atas kesalahan yang ia perbuat. Namun, Tio tetap tidak mau mendengarkan penjelasan Eren. Dari lubuk hati mereka terdalam sebenarnya mereka tidak ingin bermusuhan selama ini.

     Eren bingung, entah apa yang mesti ia perbuat agar Tio memaafkannya. Selama ia bermusuhan, Tio menjadi semakin dekat dengan Gladis. Hampir setiap hari Eren melihat Gladis berada di rumah sahabatnya yang sekarang menjadi  musuh itu. Hati Eren semakin terluka, hanya menangis dan menangis yang bisa ia lakukan.
Beberapa hari kemudian..

           Terdapat sebuah kotak di depan rumah Tio bertuliskan “Untuk sahabat gue Tio”. Segera Tio membuka kotak tersebut. Setelah dibukanya, terdapat 7 ekor kucing lengkap dengan kandang serta perlengkapan lainnya. Di dalam kotak terselipkan sepucuk surat, surat itu bertuliskan:
“Tio.. aku minta maaf ya atas kejadian satu bulan yang lalu. Jujur, bukan aku yang menyebabkan Miing mati. Di dalam kotak itu ada sebuah karet gelang yang waktu itu aku temukan di dalam mulutnya Miing. Mungkin pada saat itu Miing mati karena menelan karet itu. Oh ya, itu kado buat lo. Itu aku beli pake uangku sendiri loh. Hasil dari aku ngumpulin selama satu tahun. Gara-gara kamu, sekarang aku jadi suka loh sama kucing, bahkan aku sampai melihara. Oh ya,aku ucapin selamat ya karena kamu udah bisa dapatkan apa yang kamu mau, yaitu Gladis orang yang kamu suka selama ini. Aku bahagia kalau kamu bahagia.

Awalnya aku emang pernah menganggap kamu lebih dari sahabat, tapi nyatanya kamu itu sukanya sama Gladis. Jadi, sekarang aku sadar kalau kita itu ditakdirin hanya sebagai sahabat J. Tapi  aku bahagia bangettt bisa jadi sahabat kamu. Rawat ya kucing itu, ya.. mungkin kucing itu bisa menggantikan Miing. Anggap kucing itu adalah aku dan sekaligus sebagai tanda persahabatan kita. Sekali lagi aku minta maaf ya. Sekarang aku harus pindah ke Bandung. Aku akan selalu inget kamu, selamanya. YOU ARE MY BEST FRIEND IN THE WORLD”


            Tetes demi tetes air mata berjatuhan. Tio sangat menyesal dengan apa yang dia perbuat kepada sahabatnya. Yang selama ini begitu tulus menyayanginya. Tio menyesal karena tidak mendengarkan penjelasan darinya.

            “Eren.. kamu memang sahabatku yang paling baik. Aku juga tidak akan melupakan semua kebaikan, kenangan, dan keindahan p$ersahabatan kita selama ini. Aku juga sayang sama kamu dan aku janji akan merawat kucing ini dengan tulus, setulus kamu menyayangi aku. YOU ARE MY BEST FRIEDN IN THE WORLD”

-TAMAT-

0 komentar:

Posting Komentar

 
;