Minggu, 13 Maret 2016 0 komentar

Hati Vs Logika


Mengapa hati seringkali tidak dapat memberikan ruang kemenangan terhadap logika?
Ketika perasaan terlibat di dalam perdebatan antara hati dan logika, kemenangan selalu saja berpihak pada hati. Mengapa demikian? Bukankah kata 'mengapa' mempunyai jawaban 'karena'? Lalu, sebenarnya apa jawaban dari kata 'mengapa' yang kupertanyakan?

Apakah logika tidak cukup kuat untuk mengalahkan hati?
Bukankah logika itu lebih pasti dan nyata dibandingkan dengan hati?

Sepemahamanku, hati lebih seringkali bimbang, ragu dan tidak memberi kepastian akan sebuah jawaban. Ia selalu saja membuat seseorang menjadi gelisah, ragu dan menimbang-nimbang atau bahkan lebih parahnya lagi, ia mampu membuat seseorang sampai meneteskan air mata yang sebenarnya tidak diinginkan kehadirannya.

Sementara logika, ia pasti. Ia sudah menjelaskan segalanya, menjelaskan tentang kenyataan. Pahit, ia katakan pahit. Sakit, ia katakan sakit. Ia tidak pernah berbohong.
Tapi bagaimanakah dengan hati? Ia seringkali berbohong. Sesuatu yang sebenarnya pahit, ia katakan manis. Apabila ia sakit, ia katakan bahwa ia baik-baik saja. Dan ia melibatkan wajah untuk bekerja sama dengannya. Agar kebohongan itu semakin terlihat sempurna.

Lalu siapakah yang seharusnya menang? Jelas logika bukan? Namun bagaimana kenyataannya?

Mengapa hati seringkali tidak dapat memberikan ruang kemenangan terhadap logika?

-NAR-
 
;